Semua
orang di dunia ini pasti memiliki cermin di rumah. Banyak juga cerita-cerita
mengenai cermin di dunia ini. Entah itu mengenai mitos cermin yang horror
ataupun legenda misterius. Cermin, bagi orang awam hanya digunakan untuk
berkaca dan mengoreksi penampilan. Namun, di belahan bumi lain, cermin dapat
digunakan sebagai suatu benda yang memiliki
kekuatan mistis. Kalau dipikir-pikir, cermin itu benda yang unik. Dia dapat
memantulkan segala macam jenis bayangan benda. Bukan hanya itu, cermin juga
dapat memantulkan cahaya. Apapun bayangan benda ataupun makhluk hidup yang
dipantulkan cermin, akan terrefleksi secara jelas gerakan, bentuk dan warna,
tanpa ada satupun yang direkayasa.
***
Rikka
Miketsukami, gadis perawakan Jepang-Jerman yang hidup bersama kedua orang
tuanya di London, Inggris. Ayahnya Ryu Miketsukami dan ibunya Marelliya
Strifeschiffer Miketsukami berprofesi sebagai penjelajah antarnegara untuk
mencari hal-hal unik ataupun benda-benda unik untuk diberitakan di bawah
naungan Square Enix corporation. Hal itulah yang menyebabkan Rikka dan kakaknya
Cloud Strife sejak dulu suka berpindah sekolah. Bayangkan saja, selama kelas 1
SMA, Rikka telah pindah sekolah sebanyak 6 kali. Lain halnya dengan kakaknya
Cloud, karena sekarang dia sudah kuliah, dia harus menetap di London, untuk
meneruskan kuliahnya di Oxford University. Cloud sudah bisa mengurus diri
sendiri, beda dengan Rikka yang masih manja dan nakal.
Kali
Ini di bulan November 2012, Keluarga Miketsukami, berencana untuk menelusuri
Jepang, daerah asal Ryu, ayah Rikka. Rikka tahu benar bahwa di Jepang, banyak
cerita mistis ataupun benda-benda gaib yang sejak dulu telah dipercaya oleh nenek
moyang. Rikka kurang tertarik dengan hal itu semua. Sesuai dengan pengalaman
dia selama ini, tidak pernah terjadi hal-hal aneh ataupun mencengangkan yang
terjadi. Terkadang Rikka berpikir, bahwa hal mistis itu tidak benar-benar ada.
Rikka juga kurang suka pergi ke Jepang, karena dia belum menguasai kanji,
meskipun dalam dialog dia cukup lancar. Ayahnya sering mengajari Rikka mengenai
bahasa dan budaya Jepang. Ayahnyalah yang mengajari Rikka dan ibunya huruf
kanji. Namun tetap saja, jumlah kanji wajib yang harus dihafal lebih kurang ada 2000 buah. Dan
tiap kanji harus ditulis sesuai dengan jumlah goresan yang terkadang mencapai
belasan hanya untuk sebuah huruf. Rikka selalu meminta dibacakan oleh ayah atau
ibunya. Rikka sangat ingin cepat kembali ke London.
***
Pada
awal November, keluarga Miketsukami mengunjungi kota Osaka, kemudian Naha, Kyoto,
dan yang terakhir Sapporo. Sapporo adalah kota yang terletak di bagian paling
utara Jepang. Di sana, suhu rata-ratanya 8
.
Tempat yang sangat dingin. Tempat inilah yang paling bersalju diantara
kota-kota lainnya. Suhu kota Sapporo hampir sama seperti London, Rikka pun
mulai terbiasa. Rikka bersekolah di Kiyota High School untuk sementara. Yah
sekolah tersebut cukup bagus, Rikka nyaman bersekolah di sana. Aktivitas
sehari-hari banyak diisi dengan menonton anime, membaca manga, bermain di game
center, belajar dan lain-lain. Terkadang Rikka ikut orangtuanya saat libur
sekolah.
Di
hari minggu pagi, akhir bulan November. Hari yang cukup dingin. Pohon-pohon
telah mulai berguguran daunnya, memenuhi seisi kota. Warnya oranye keemasan
terlihat sangat berkilauan dari kejauhan. Rikka sudah mengenakan baju musim
gugurnya. Baju biru tua yang ia kenakan dengan syal krem di lehernya terlihat
begitu manis. Rambut panjang coklat-auburn-nya tergerai dengan lembut dan
berkilauan. Rencananya Rikka akan mengunjung sebuah kuil bersama kedua
orangtuanya. Kuil tersebut cukup jauh, butuh 2 jam untuk sampai di sana
menggunakan mobil. Sesampainya di sana, Rikka disambut oleh pendeta kuil atau
dalam bahasa Jepangnya disebut Miko. Satu orang tua dan yang satu lagi anak
laki-laki seumuran dengan Rikka. Setelah memperkenalkan diri masing-masing,
Rikka mengetahui nama anak laki-laki tinggi jangkung itu. Namanya Soushi. Yap,
dia mengenakan pakaian pendeta putih. Baju tampak sangat cocok dengan Soushi.
Di sana Rikka seringkali memperhatikan gerak gerik Soushi. Soushi benar-benar
lemah lembut, senyumnya sangaaattt menawan. Pada ujung kunjungan tersebut,
Rikka tak tahu benar apa yang orang tuanya lakukan dan apa yang orang tuanya
dapat dari sana. Rikka tak terlalu memperdulikannya, dia hanya asyik
melihat-lihat kuil tersebut dan beberapa kali ia mengajukan pertanyaan pada
Soushi. Saat hendak pulang Rikka merapikan bajunya di depan sebuah cermin di
dalam sebuah ruangan dekat kuil. Ukuran cermin itu kecil, kira-kira berdiameter
20 cm. Cermin itu tampak aneh dan desainnya terlihat kuno sekali. Banyak sekali
benda-benda kuno di sana.
“Mungkin ini benda peninggalan
kuil” kata Rikka dalam batin.
Rikka
pun bergegas keluar karena orangtuanya hendak pulang. Rikka sekeluarga pun
pamit pada pendeta kuil serta Soushi.
Pada
perjalanan pulang, Rikka tertidur di mobil. Mungkin karena hari ini dia
kelelahan. Langit pun terlihat berat, nampaknya akan hujan. Sesampainya Rikka
di rumah, pukul menunjukkan jam 8 malam. Rikka langsung mandi, setelah itu dia
makan malam bersama ayah bundanya. Menu makanan hari ini okonomiyaki. Di London
jarang sekali dia memakan makanan khas daerah asal ayahnya, karena orangtuanya
selalu sibuk pada pekerjaan. Yang seringkali memasak adalah kakaknya, Cloud.
Meskipun laki-laki, kakaknya piawai dalam melakukan pekerjaan rumah. Sedangkan
Rikka yang beres-beres rumah.
Setelah
selesai makan malam, Rikka menuju kamarnya untuk belajar. Pelajaran sejarah
cepat membuat Rikka mengantuk, tak sampai sejam, Rikka sudah tertidur di
kasurnya. Di saat itu juga ia bermimpi ia tengah menuju ke kuil yang ia
kunjungi tadi siang. Tetapi ada hal aneh terjadi. Di sana ia mendapati Shouta
menghilang. Lalu ada suara-suara aneh terngiang-ngiang di telinganya.
“Shouta.. Shouta.. Shouta..
Shouta..” suara tersebut berubah-ubah. Terkadang seperti orang yang tengah
marah, terkadang seperti orang yang mencari sesuatu bahkan kadang seperti orang
yang merintih.
“Di mana Shouta?” Tanya Rikka
pada suara aneh tersebut.
“Shouta? Dia tidak ada di
duniamu. Kau bisa menemukan Shouta di tempat di mana kau bisa melihat dirimu
sendiri tapi kau tidak bisa meraihnya.” Suara tersebut pun hilang.
Ketika dia terbangun, tubuhnya
dipenuhi keringat. Wajahnya agak pucat.
“Ah, semalam aku bermimpi buruk.
Mana mungkin hal tersebut terjadi. Ya kan?” tanyanya pada diri sendiri.
***
Di
sekolah, ia masih terbayang-bayang oleh mimpi tersebut. Dia terus menerus
berpikir, tempat seperti apakah yang dimaksudkan suara aneh tersebut. Saat jam
istirahat, Rikka menyempatkan dirinya untuk pergi ke perpustakaan. Mencari
beberapa referensi tentang tempat-tempat aneh. Pada salah satu buku, ia
menemukan sesuatu yang mungkin menjadi petunjuk, dunia antara hidup dan mati.
Dia mengambil hipotesis, mungkin saja dunia itu yang dimaksud suara tersebut.
Apakah Shouta sedang koma? Pada cerita-cerita mitos ataupun legenda-legenda
kuno menyebutkan bahwa orang yang sedang koma, arwahnya telah berada di luar
tubuh, namun masih terantai dengan tubuh. Sang arwah dapat melihat ke tubuhnya,
tetapi dia tak bisa menyentuhnya. Rikka pun berusaha keras untuk tidak
mempercayai hal tersebut, dia menentang pikirannya sendiri dengan terus
beranggapan bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur, mimpi hanyalah pengulangan
peristiwa yang terjadi saat manusia sedang tersadar.
Saat di kelas, Rikka melihat
teman perempuannya sedang bermain dengan kartu ramalan. Ia menghampiri mereka.
“Kalian sedang apa?” Tanya
Rikka.
“Ah, Rikka. Kau mau mencoba
ramalan? Riri sangat pandai dalam hal itu. Persentase kebenarannya mencapai
90%. Hebat bukan?” Jawab Nina dengan antusias.
“Iya benar Rikka, banyak anak
perempuan bertanya padanya soal cinta, bahkan anak kelas lain pun suka meminta
ramalan darinya.” Tukas Sora.
“Kau sedang menyukai seseorang,
iya kan?” goda Anri.
“Eh? Ah tidak, aku sedang
mencari seseorang yang keberadaannya tidak kuketahui” Jelas Rikka. “Ehm, Riri
boleh aku meminta ramalan darimu?” Pinta Rikka yang sebenarnya hanya iseng
untuk mencoba.
“Oh, boleh saja. Tapi kau jangan
anggap main-main ramalanku ini.” Jawab Riri dengan tegas. “Aku bisa tahu apa
yang kau pikirkan.”
“Eh, Oh.” Rikka amat terkejut
dengan kata-kata Riri. Jangan-jangan dia memiliki kekuatan supranatural. “Ba.. baiklah”
“Apa zodiakmu, Rikka
Miketsukami?” Tanya Riri mulai serius.
“Gemini”
“Tanggal dan bulan lahirmu?”
“14 Juni 1996”
“Shio-mu?”
“Eh, Shio-ku Tikus”
“Baiklah Rikka peruntunganmu
hari ini jangan mudah percaya pada sesuatu. Kau harus lebih care dengan orang
yang kau sayangi, tolonglah mereka saat mereka membutuhkan pertolongan sesegera
mungkin. Untuk kesehatanmu, jangan terlalu banyak makan coklat dan makanan
pedas.”
“Ta..tapi..?”
“Aku tahu apa yang mau kau
tanyakan. Nah, Rikka tarik 3 buah kartu untuk seseorang yang sedang kau cari”
Rikka
pun menarik 3 buah kartu secara acak. Riri pun membuka satu per satu kartu yang
dipilih Rikka. Kartu pertama, kedua dan ketiga pun telah di buka.
“Kartu yang terbuka adalah
Water, Shadow dan Illution. Ketiga kartu tersebut akan menjadi petunjuk di mana
tempat seseorang tersebut.” Jelas Riri.
“Apa? Aku tidak begitu
mengerti.” Tanya Rikka
“Aku tidak begitu tahu siapa
yang sedang kau cari. Apakah bukan manusia? Baru kali ini aku menemukan 3
kombinasi kartu seperti ini. Kalo ini berhubungan dengan pekerjaan orangtuamu,
mungkin ini bisa terjadi.” Jawab Riri.
“Eeehh? Bukan kok. Yang kucari
manusia kok. Dan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan orangtuaku.” Jawab
Rikka menjelaskan.
“Ah pacarmu ya?” Kata Anri
menggoda.
“Rikka! Kau tidak bilang pada
kami soal pacarmu.” Kata Nina.
“Tidak tidak, kalian semua salah
sangka. Aku tidak memiliki pacar kok” Jelas Rikka. “Dia hanya temanku kok, kami
baru bertemu satu kali.”
Setelah percakapan mereka usai,
bel berbunyi. Pelajaran pun dimulai.
Saat di rumah, Rikka bertanya
pada ibunya.
“Bu, apa kita akan ke kuil
lagi?”
“Entahlah, memangnya kenapa?”
“Aku ingin ke sana. Tempatnya
indah, jarang-jarang aku bisa melihat tempat seperti itu di London.”
“Oh, begitu ya. Nanti Ibu akan
minta pada Ayah agar kita bisa ke sana lagi.”
“Yang benar Bu? Terima kasih ya,
Bu”
“Iya” jawab Ibu dengan senyuman.
***
Pada
awal bulan desember, Rikka akhirnya pergi ke kuil untuk kedua kalinya. Setelah
sampai di sana, Rikka hanya bisa berharap kalau mimpinya itu tidak jadi
kenyataan. Mereka pun di sambut oleh Miko. Sepertinya tidak ada hal aneh
terjadi. Lalu Rikka bertanya pada Miko di mana Soushi. Miko pun memberitahu
bahwa Miko sedang membersihkan halaman belakang kuil. Sesegera mungkin Rikka
menemui Soushi. Dia pun bertemu dengan Soushi. Rikka lega bahwa Soushi tidak
apa-apa. Rikka mulai percakapan dengan Soushi.
“Shoushi, kau baik-baik saja?”
Tanya Rikka.
“Ah, iya, maaf kau siapa ya?”
jawab Soushi.
“Kau sudah lupa ya? Aku yang
kemarin ke sini bersama orangtuaku untuk mencari info mengenai benda-benda unik
bersejarah.” Jelas Rikka.
“Maaf sepertinya aku lupa.”
Jawabnya dengan senyum.
“Yasudahlah, tidak apa-apa. Aku
Rikka Miketsukami. Salam kenal. Maaf sudah mengganggu pekerjaanmu.” Kata dengan
sedikit kecewa. “Mungkin inikah maksud mimpi buruk tersebut? Aku bersyukur
Soushi tidak apa-apa.” Kata Rikka dalam batin. “Ingatan Soushi buruk ya, atau
dia memang tidak mengingatku karena aku tidak begitu penting? Yah biarlah.”
Kata Rikka lagi dalam batin. Meskipun begitu, Rikka merasa ada yang janggal mengenai
kuil tersebut. Entah apapun itu, Rikka coba meneliti beberapa tempat yang
mungkin ada hubungannya dengan ramalan Riri. Ramalan Riri bisa menjadi
kenyataan dengan persentase 90%. Kalau memang benar Soushi tidak apa-apa,
mengapa ramalan tersebut menunjukkan suatu tempat yang aneh? Apa ramalan itu
salah? Tapi Riri kan mungkin memiliki kekuatan supranatural. Pikiran Rikka
saling adu argumen. Dia merasa kepalanya hampir meledak memikirkan itu semua.
Rikka pun mencoba menelepon Riri. Mungkin ia bisa membantu. “Halo Riri, kau
bisa bantu aku?” Tanya Rikka. “Ah iya, ada apa Rikka?” jawab Riri. “Bisa tidak
kau bantu aku mengenai ketiga petunjuk dari kartu kemarin yang Water, Shadow
dan Illution.” Pinta Rikka. “Ehm, tunggu sebentar, mungkin yang dimaksud
Illution adalah ilusi belaka, Shadow adalah bayangan atau bisa juga diartikan
sebagai suatu refleksi dan Water mungkin sesuatu yang dapat berpindah-pindah
atau mungkin transparan. Mungkin itu saja penjelasan dariku. Apakah kau belum
menemukan seseorang itu?” Tanya Riri. “Eh itu, sepertinya orang itu tidak
berada di tempat seperti itu, baru saja aku melihatnya.” Kata Rikka. “Eehh??
Ramalanku meleset? Yah apa saja bisa terjadi kan? Tapi kau jangan mudah percaya
dengan apa yang kau lihat.” Kata Riri lagi. Lalu percakapan usai dan Rikka pun
menutup teleponnya.
“Apa yang harus kulakukan
sekarang?” Tanya Rikka pada diri sendiri sambil melihat bayangnya pada air
kolam dekat kuil. “Water? Maksudnya apa semua ini?” Pikiran Rikka kusut. Dia
pun termenung tak lama ia terkejut dengan bayangan dirinya pada air. “Apakah
maksud kartu Water itu pantulan diri? Sama seperti saat kita berkaca?” Rikka
mungkin telah menemui titik terang. “Kalau semuanya digabungkan jadi lebih
masuk akal kan? Antara mimpi dan ramalan tersebut. Tempat dimana aku bisa
melihat diriku sendiri tapi aku tidak bisa menyentuhnya, tempat yang merupakan
pantulan, bayangan dan hanya sebuah ilusi.” Rikka menarik suatu kesimpulan.
Tidak salah lagi, tempat tersebut ada dalam suatu cermin atau semacamnya. Itu
yang Rikka pikirkan. “Tapi buat apa juga aku mencarinya? Toh Soushi tidak
kenapa-kenapa.” Pikiran itu kembali bergelut di kepala Rikka. Namun Rikka masih
memikirkan cermin mana yang dia cari? Rikka pun bertanya pada salah satu Miko
di sana. Dia mendapat informasi bahwa tidak ada cermin aneh ataupun keramat di
sana. Rikka pun mulai menyurutkan niatnya. Ia mulai menenangkan dirinya dan
pikirannya. Saat hendak ke halaman belakang, nampaknya Soushi sudah selesai
dengan pekerjaannya. Saat dia berbalik ke belakang, ada Soushi. Dia sangat
kaget, jantungnya hampir saja copot. Soushi dengan baju Miko putihnya membaca
sebuah cermin.
“Soushi, jangan muncul tiba-tiba
gitu dong, kaget nih. Eh kau bawa cermin? Inikan cermin yang ada di ruangan
dekat kuil.” Tanya Rikka. Soushi terdiam.
“Iya, ini cermin tersebut.”
Jawab Soushi. Ada yang aneh dengan Soushi, biasanya dia tersenyum lembut pada
semua orang. Tatapannya tidak pernah setajam ini.
“Akhirnya aku menemukan tubuh yang cocok, akhirnya aku bisa keluar dari cermin ini. Aku bisa bertemu Soushi di dunia yang nyata ini.” Kata Soushi. Hal itu membuat Rikka terperangah, dia sudah menduga ada yang tidak beres.
“Apa maksudmu? Kau kenapa Sou?” tanyanya. Langit menjadi agak mendung.
“Aku bukan Soushi,Soushi-ku yang manis sedang ada dalam cermin ini. Aku meminjam tubuhnya, tapi sekarang akan kukembalikan karena aku telah menemukan tubuh baru, yaitu kau, Rikka.”
“Siapa kau? Mau apa kau dengan tubuhku?” Tanya Rikka merinding, sontak tubuhnya tidak bisa digerakkan.
“Tenang saja Rikka manis, mulai sekarang kau akan bertukar dunia denganku untuk selamanya. Akhirnya aku bisa memiliki Sou.” Jawab seseorang yang berada dalam tubuh Sou.
Saat itu juga tubuh Soushi bergerak dan mengangkat cermin di tangannya. Rikka bisa melihat bayangan Soushi di sana. Saat mulut Soushi seperti mengucapkan mantra, cermin tersebut bersinar dan roh Soushi seperti keluar dari cermin tersebut. Di saat itu juga, Rikka gemetaran, dia tidak bisa lari, lambat laun tubuhnya seperti terhisap ke cermin. Pikiran Rikka pun melayang, dia menangis menjerit dalam batin. Semua kejadian yang pernah ia alami terlintas semua di pikirannya. Ia belum mau pergi dari dunia ini. Hingga detik-detik terakhir, roh Soushi seperti terbangun, ia melihat Rikka yang sudah kesakitan. Roh Soushi tiba-tiba menarik Rikka keluar cermin, roh Soushi otomatis yang terhisap kembali ke cermin. Saat roh Rikka terlepas dari cermin, roh Soushi menarik roh yang memasuki tubuhnya. Keluarlah roh seorang gadis cantik dari tubuh Soushi. Gadis tersebut memiliki rambut putih yang panjang hampir 2 per 3 tubuhnya, meskipun rambutnya putih, dia tidak terlihat tua. Tatapannya tajam terus memperhatikan Soushi. “Kenapa kau melakukan ini Sou? Bukankah kau senang jika aku bisa keluar dari penjara cermin?” Kata gadis berambut putih tersebut. Dengan senyumnya yang indah, Soushi menjawab, “apakah untuk bahagia, kita harus mengambil kebahagiaan orang lain? Tidak perduli dimanapun kau berada, jika ada seorang saja yang menyayangimu bukankah itu lebih membahagiakan?”
“Akhirnya aku menemukan tubuh yang cocok, akhirnya aku bisa keluar dari cermin ini. Aku bisa bertemu Soushi di dunia yang nyata ini.” Kata Soushi. Hal itu membuat Rikka terperangah, dia sudah menduga ada yang tidak beres.
“Apa maksudmu? Kau kenapa Sou?” tanyanya. Langit menjadi agak mendung.
“Aku bukan Soushi,Soushi-ku yang manis sedang ada dalam cermin ini. Aku meminjam tubuhnya, tapi sekarang akan kukembalikan karena aku telah menemukan tubuh baru, yaitu kau, Rikka.”
“Siapa kau? Mau apa kau dengan tubuhku?” Tanya Rikka merinding, sontak tubuhnya tidak bisa digerakkan.
“Tenang saja Rikka manis, mulai sekarang kau akan bertukar dunia denganku untuk selamanya. Akhirnya aku bisa memiliki Sou.” Jawab seseorang yang berada dalam tubuh Sou.
Saat itu juga tubuh Soushi bergerak dan mengangkat cermin di tangannya. Rikka bisa melihat bayangan Soushi di sana. Saat mulut Soushi seperti mengucapkan mantra, cermin tersebut bersinar dan roh Soushi seperti keluar dari cermin tersebut. Di saat itu juga, Rikka gemetaran, dia tidak bisa lari, lambat laun tubuhnya seperti terhisap ke cermin. Pikiran Rikka pun melayang, dia menangis menjerit dalam batin. Semua kejadian yang pernah ia alami terlintas semua di pikirannya. Ia belum mau pergi dari dunia ini. Hingga detik-detik terakhir, roh Soushi seperti terbangun, ia melihat Rikka yang sudah kesakitan. Roh Soushi tiba-tiba menarik Rikka keluar cermin, roh Soushi otomatis yang terhisap kembali ke cermin. Saat roh Rikka terlepas dari cermin, roh Soushi menarik roh yang memasuki tubuhnya. Keluarlah roh seorang gadis cantik dari tubuh Soushi. Gadis tersebut memiliki rambut putih yang panjang hampir 2 per 3 tubuhnya, meskipun rambutnya putih, dia tidak terlihat tua. Tatapannya tajam terus memperhatikan Soushi. “Kenapa kau melakukan ini Sou? Bukankah kau senang jika aku bisa keluar dari penjara cermin?” Kata gadis berambut putih tersebut. Dengan senyumnya yang indah, Soushi menjawab, “apakah untuk bahagia, kita harus mengambil kebahagiaan orang lain? Tidak perduli dimanapun kau berada, jika ada seorang saja yang menyayangimu bukankah itu lebih membahagiakan?”
Saat
itu juga gadis itu menangis, ia tidak mau melepaskan Soushi. Rikka hanya duduk
termangu melihat Soushi. Cermin itu semakin menghisap roh Soushi dan gadis
berambut putih tersebut. Rikka hendak menarik Soushi dengan tenaga yang
tersisa. Saat itu juga Soushi berkata Rikka, “Rikka, terima kasih kau sudah
mencariku, hanya kaulah satu-satunya yang menyadari kepergianku. Nampaknya kali
ini aku tidak bisa kembali lagi.” Kata Soushi pada Rikka. “Kenapa kau masuk ke
cermin lagi? Biarkan saja gadis penghuni cermin itu yang kembali ke dunianya?
Apa kau tidak memikirkan orangtuamu dan orang yang kausayangi, kau tinggalkan
begitu saja?” Tangis Rikka. “Biarlah aku yang masuk ke dalam cermin untuk
menemani gadis ini, aku mengerti benar bagaimana rasanya hidup sendirian,
lagipula aku tidak memiliki keluarga. Aku yatim piatu, Rikka. Kuharap para Miko
di sini mengerti atas apa yang aku lakukan” Jawab Shoushi. “Tapi aku
menyukaimu, Sou.” Kata Rikka. Dengan senyum terakhirnya, Sou mengatakan “aku
juga menyukaimu, Rikka Miketsukami.”
Senyum Soushi, senyumnya yang terakhir, melukiskan kebahagiaannya. Hujan pun turun. Tubuh Sou sudah terbaring di atas tanah. Bajunya yang putih bersih, kini telah ternodai oleh air hujan. Wajah Sou Nampak begitu manis. Tak akan ada yang mengira bahwa Soushi sudah tidak ada di dunia ini lagi. Tangis Rikka sudah tak tertahankan. Ia keluarkan segala rasa sedihnya, ia berteriak sekencang-kencangnya. Orang yang ia sayangi kini tiada. Dia hanya memeluk sebuah cermin kecil. Saat para Miko datang, mereka terkejut. Rikka tidak bisa bilang apa-apa. Dia masih tidak percaya pada apa yang telah dia alami. Dia hanya duduk di samping tubuh Soushi, dan menangis.
***
Akhir desember, Rikka sekeluarga
pulang ke London. Sepertinya Rikka tidak bisa melupakan kejadian di kuil. Rikka
masih suka menangisi kepergian Soushi. Orangtua Rikka tidak bisa berbuat
apa-apa. Sebelum pulang, Rikka meminta para Miko untuk menjaga dengan baik
cermin mistis itu. Rikka pun meminta pada ayahnya agar setahun sekali untuk
kembali ke kuil tersebut.
“Sesuatu yang tidak tampak,
bukan berarti tidak ada.” Itulah ucapan Rikka pada dirinya sendiri yang pada
awalnya tidak percaya pada kekuatan mistis.
